TUGAS
IAD/IBD/ISD
PROSES
TERBENTUKNYA ALAM SEMESTA DAN ASAL USUL KEHIDUPAN

NAMA KELOMPOK :
Reza Fajar Muhammad (B05218030)
Rinka Rizki Rahmawati (B95218132)
Riqqah Azzahra Leviasari
Rizky Alisah Febriana (B75218079)
Thery Andhiny (B75218085)
Tevin Albert Matuli (B95218143)
Ulliya Azmiah (B75218087)
Wahyu Tita Amalaia (B95218144)
Zahrotul Firdausi (B05218037)
ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN
AMPEL
SURABAYA
2018
KATA PENGANTAR
Puja dan puji
syukur kami haturkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang
telah memberikan banyak nikmat, taufik dan hidayah. Sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Proses Terbentuknya Alam Semesta dan Asal
Usul Kehidupan” dengan baik tanpa ada halangan yang berarti.
Makalah ini telah kami selesaikan dengan maksimal berkat kerjasama dan
bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu kami sampaikan banyak terima kasih
kepada segenap pihak yang telah berkontribusi secara maksimal dalam
penyelesaian makalah ini.
Diluar itu, penulis sebagai manusia biasa menyadari sepenuhnya bahwa
masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, baik dari segi tata
bahasa, susunan kalimat maupun isi. Oleh sebab itu dengan segala kerendahan
hati, kami selaku penyusun menerima segala kritik dan saran yang membangun dari
pembaca.
Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga
makalah ini dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat
nyata untuk masyarakat luas dan untuk kami sendiri.
Surabaya, 21 September 2018
Penulis
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar
Daftar
Isi
BAB
I
A. Latar
Belakang
B. Rumusan
Masalah
C. Tujuan
BAB
II
A. Teori
Sains Modern dan Islam Tentang
Asal Usul Kehidupan di Muka Bumi
B. Proses
Timbulnya Alam Semest Berdasarkan
Sains Modern dan Islam
C. Mengkritisi
Teori Sains Modern Tentang Proses
Terbentuknya Alam Semesta dan Asal Usul
Kehidupan di Muka Bumi Berdasar
Konsep Islam
BAB
III
A. Kesimpulan
Daftar
Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Alam semesta didefinisikan sebagai ruang dan waktu dimana
semua energi dan materi berpadu. Terjadinya alam semesta telah dipelajari oleh
manusia sejak dahulu. Dari waktu ke waktu sejalan dengan perkembangan akal
pikiran manusia yang diikuti oleh kemajuan teknologi, pandangan terhadap alam
semesta semakin luas.
Bumi yang saat ini kita tempati dengan segala isinya yang senantiasa kita
nikmati, tentunya tidak terjadi begitu saja, tidak ada dengan sendirinya tanpa
ada hal besar yang melatarbelakangi.
Jika kita melihat Al-Qur’an, jelas Allah mengatakan bahwa pada mulanya
bumi dan langit adalah satu kesatuan yang tidak terpisah. Tetapi kemudian Allah
menjadikannya dua bagian yang terpisah seperti halnya yang kita lihat saat ini.
Inilah yang menjadi dasar ketertarikan para ilmuwan dan
peneliti untuk menulusuri lebih mendalam tentang proses alam semesta. Berbagai
teori kemudian muncul sebagai akibat dari adanya penelitian ilmiah terkait hal
itu. Ada George Lemaitre sebagai motor dari teori letusan hebat (Bing Bang),
juga ada Astronomi Inggris Fred Hoyle yang memotori teori keadaan tepat.
Pengetahuan yang mendalam tentang alam semesta akan meningkatkan intensitas
keimanan sebagai akibat dari munculnya rasa syukur yang mendalam dan rasa
takjub akan kebesaran Allah yang. Sangat mustahil jika alam semesta yang
demikian luas tidak ada yang mengaturnya. Bergantinya bulan dan matahari, siang
dan malam, musim hujan dan musim panas, tentulah ada kekuatan dahsyat yang
mengatur itu, dan itu tidak lain adalah Allah SWT yang berfirman :
إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ
وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ﴿ە۱۹﴾ ٱلَّذِينَ
يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ
فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًۭا
سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ﴿۱۹۱﴾
Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb
kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa neraka. [Ali
‘Imran/3:190-191]
Sebagai
mana kita tahu bahwa alam semesta ini banyaklah terdapat teka-teki yang perlu
kita kaji akan kebenaran teori-teori dan Al-Qur’an sebagai pedoman umat Islam
yang berisi tentang segala objek dan referensi yang utama dalam setiap kegiatan
ilmiah dimanapun.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana proses timbulnya alam semesta berdasarkan sains
modern dan Islam?
2.
Bagiamana teori sains modern dan Islam tentang asal usul
kehidupan di muka bumi?
3.
Bagaimana mengkritisi teori sains modern tentang proses
terbentuknya alam semesta dan asal usul kehidupan di muka bumi berdasar konsep
Islam
C.
Tujuan
1.
Mengetahui proses timbulnya alam semesta berdasarkan
sains modern dan Islam
2.
Mengetahui teori sains modern dan Islam tentang asal usul
kehidupan di muka bumi
3.
Dapat mengkiritisi teori sains modern tentang proses
terbentuknya alam semesta dan asal usul kehidupan di muka bumi berdasar konsep
Islam
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Teori Timbulnya Alam Semesta Berdasarkan Sains Modern dan
Islam
Alam semesta merupakan suatu hamparan atau ruangan yang
sangat luas yang tidak diketahui juga berapa luasnya. Diperkirakan alam semesta
berbentuk melengkung dan dalam keadaan memuai serta terdiri dari
galaksi-galaksi atau . sistem bintang yang jumlahnya ribuan.
Menurut orang Babylonia, alam semesta merupakan suatu
ruangan atau selungkup dengan bumi yang datar sebagai lantainya dan langit
beserta bintang sebagai atapnya. Jadi alam semesta adalah suatu ruangan yang
sangat luas yg didalamnya terdapat kehidupan botik dan abiotik, serta
didalamnya juga terjadi banyak peristiwa alam baik yang dapat diungkapkan oleh
manusia atau yang tidak dapat diungkapkan oleh manusia.
Immanuel
Kant (1749-1827),
seorang ilmuwan filsafat jerman yang membuat suatu hipotesis tentang
terbentuknya tata surya. Menurut Kant:
“Dijagat raya terdapat gumpalan kabut yang berputar perlahan-lahan sehingga
lama kelamaan bagian tengan kabut itu berubah menjadi gumpalan gas yang
kemudian membentuk matahari, dan bagian kabut disekelilingnya membentuk
planet-planet, satelit, dan benda-benda langit lainnya.”
Seorang ilmuwan fisika Prancis bernama Pierre Simon de laplace mengemukakan
teori yang hampir sama dan pada waktu yang bersamaan. Menurut Laplace:
“Tata surya berasal dari kabut panas yang berputar sehingga membentuk
gumpalan kabut yang pada akhirnya menjadi berbentuk bulat seperti bola besar.
Akibatnya putarannya itu, bentuk bola itu memepat pada kutubnya dan melebar
pada bagian equatornya. Kemudian, sebagian massa gas pada equatornya menjauh
dari gumpalan intinya membentuk cincin-cincin yang melingkari intinya. Dalam
jangka waktu yag cukup lama cincin-cincin itu berubah menjadi gumpalan padat.
Gumpalan kecil-kecil inilah yang membentuk planet-planet dengan satelitnya dan
benda langit lainnya, sedangkan inti kabut tersebut tetap berbentuk gas pijar
yang akhirnya disimpulkan menjadi matahari.”
Persamaan kedua teori diatas, terletak pada material asal pembentuk tata
surya, yaitu teori kabut (nebula), sehingga kedua teori itu disebut Teori
Nebula atau Teori Kabut, atau lebih dikenal dengan nama Teori Kant dan Laplace.
Berikut ini beberapa teori" yang menjelaskan tentang
terbentuknya alam semesta menurut para ilmu sains dan Al- Qur'an.
Teori Para Ahli:
1.
Teori Big Bang
Dalam pandangan sains modern, pada awalnya alam semesta ini masih
berupa kabut gas yang panas dan kemudian terpisah. Terpisahnya kabut gas ini
merupakan proses awal terciptanya galaksi-galaksi. Dari pecahan-pecahan kabut
gas tersebut selanjutnya melalui proses evolusi terbentuk miliyaran matahari
dengan planet-planet, termasuk bumi yang kita huni ini. Ilmuwan cerdas yang
pertama kali mengemukakan teori ini bernama Laplace dari Perancis dan Immanue
Kant dari Jerman.
Alam
semesta merupakan ruang kosong maha luas tanpa batas, tanpa sinar terang, tanpa
gaya apapun, tanpa gravitasi apapun, tidak ada pengertian atas dan bawah, juga
tidak ada pengertian utara-selatan, timur-barat, yang didalamnya berisi 1
miliar galaksi dan tiap-tiap galaksi terdiri dari 100 miliar bintang, dimana
tiap-tiap bintang adalah matahari dengan tata suryanya sendiri-sendiri.
Pandangan
mengenai asal-usul alam dapat diamati dari berbagai pemikiran para saintis
berabad-abad yang lalu. Dalam era fisika klasik
(abad XVII-XVIII), Isaac Newton menggagas bahwa alam semesta ini bersifat
statis, tidak berubah status totalitasnya dari waktu tak terhingga lamanya yang
telah lampau, sampai waktu tak terhingga lamanya yang akan datang. Gagasan
tentang alam tersebut secara tidak langsung menggambarkan bahwa alam tak
berawal dan tak berakhir, atau dengan kata lain, alam ada tanpa adanya proses
penciptaan.
Pandangan
Klasik Newton ini didasarkan pada pengalaman para fisikawan di laboratorium
bahwa materi itu bersifat kekal. Pandangan ini kemudian dikukuhkan oleh
Lavoisier pada akhir abad XVIII dengan “Hukum Kekekalan Materi”. Pandangan
bahwa alam ini kekal kemudian dikenal sebagai Pandangan Klasik Newtonian.
Awal
abad XX, muncullah Albert Einstein yang berusaha melukiskan bahwa alam
benar-benar statis dalam bentuk rumus matematika yang rumit. Namun, Friedman
menyatakan bahwa rumusan Einstein itu justru menggambarkan bahwa alam ini
dinamis dan hal inilah yang tepat sehingga dikenal sebagai Model Friedman
tentang alam.
Dari
gagasan-gagasan di atas maka lahirlah konsepsi bahwa sekitar 15 miliar tahun
yang lampau di dalam ruang kosong luas tanpa batas terdapat sebongkahan besar
inti atom padat meledak sangat dasyat melepaskan zat hydrogen kesegala arah
menjadi galaksi-galaksi bintang, dengan proses pembentukan atom yang lebih
berat, sehingga dibumi kita ini terdapat 106 unsur atom. Dan kini sisa energy
ledakan itu mengakibatkan materi alam (galaksi-galaksi) saling menjauh. Gagasan
mengenai asal-usul alam ini kemudian dikenal sebagai Teori Big Bang.
Teori
Big Bang didukung oleh beberapa penemuan mutakhir pertama penemuan Edwin Powell
Hubble astronom kebangsaan Amerika Serikat di Observatorium California Mount
Wilson tahun 1924 ketika Hubble mengamati bintang-bintang diangkasa melalui
teleskop raksasanya ia mendapati bahwa cahaya yang dipancarkan bintang-bintang
bergeser ke ujung merah spectrum. Ia pun menemukan bahwa pergeseran ini
terlihat lebih jelas jika bintangnya lebih jauh dari bumi. Temuan ini
menggemparkan dunia ilmu pengetahuan. Berdasarkan hukum-hukum fisika yang
diakui, spectrum sinar cahaya bergerak mendekati titik pengamatan akan
cenderung ungu, sementara sinar cahaya yang bergerak menjauhi titik pengamatan
akan cenderung merah. Pengamatan Hubble menunjukkan bahwa cahaya dari
bintang-bintang cenderung kearah warna merah. Ini berarti bahwa bintang-bintang
tersebut senantiasa bergerak menjauhi kita. Tak lama sesudah itu, Hubble
membuat temuan penting lainnya: bintang dan galaksi bukan hanya bergerak
menjauhi kita, namun juga saling menjauhi. Pengamatan tersebut memberi
kesimpulan bahwa berbagai galaksi saling menjauh dengan kecepatan sampai
beberapa ribu kilometer per detik. Hal ini berarti bahwa alam sedang
berekspansi (meluas/melebar) atau dikatakan bahwa alam bersifat dinamis
Hasil
perhitungan cermat Albert Einstein yang menyimpulkan bahwa alam semesta dinamis
tidak statis artinya alam semesta terus berkembang. Meskipun pada mulanya
terimbas gagasan bahwa alam itu statis, lalu mengembangkan formula matematisnya
dan berusaha melukiskan bahwa alam benar-benar statis namun hal itu justru
menggambarkan bahwa alam itu dinamis.
Adanya jumlah unsur hydrogen dan helium di alam semesta yang sesuai dengan
perhitungan konsentrasi hydrogen dan helium merupakan sisa dari ledakan dahsyat
tersebut. Kalau saja alam ini tetap dan abadi maka hydrogen di alam semesta
telah habis berbubah menjadi helium.
Peristiwa Big Bang yang ditenggara menandai dimulainya penciptaan alam
semesta itu bukan hanya sekedar teori tetapi sudah menjadi keyakinan ilmiah
para ilmuwan. Oleh karena itu, dapat diketahui bahwa galaksi-galaksi saling
menjauh dengan kecepatan kira-kira 32 kilometer/detik untuk setiap jarak satu
juta tahun cahaya, maka dapatlah diperhitungkan bahwa alam semesta ini tercipta
dengan proses Big Bang antara 15-20 milyar tahun yang lalu.
2. Teori Steady State
Teori
ini berpendapat bahwa materi yang hilang melalui resesi galaksi-galaksi, karena
pengembungan alam yang berlangsung terus menerus digantikan oleh materi yang
baru saja tercipta sehingga alam semesta yang terlihat tetap berada dalam
keadaan tidak berubah (stady state), artinya bahwa materi secara terus menerus
tercipta diseluruh alam semesta. Teori ini sama sekali tidak menyebut peristiwa
awal yang bersifat khusus pada waktu atau ruang. Tidak ada awal maupun akhir
karena materi diperbarui secara terus menerus di satu tempat sementara di
tempat lain dihancurkan.
Embrio Steady State bermula atas dasar pijakan faham Materialis yang
memberikan pandangan terhadap penciptaan Alam semesta ini tak berawal dan tak
berakhir. Faham Materialis adalah salah satu faham yang berfikir bahwa materi
satu-satunya keberadaan mutlak dan menlak selain materi. Faham yang berakar
dari Yunani kuno ini mendapat penerimaaan meluas ke abad 15. Dan pandangan ini
dikenal dengan Faham Materialis dialektika Karl Mark. Yang beranggapan bahwa
faham materialis meyakini model alam semesta tak hingga sebagai dasar berpijak
paham Atheis mereka. Misal terdapat dalam buku yang berjudul Principes
Fondamentaly De Philoshopie yang di tulis oleh filusuf Materialis George
Politzer, beliau mengatakan Alam semesta bukanlah sesuatu yang diciptakan.
Beliau menambahkan, jika Alam semesta diciptakan, sudah pasti diciptakan oleh
Tuhan dengan seketika dari ketiadaan. Ketika Politzer berpendapat Alam semesta
tidak diciptakan dari ketiadaan , yang tidak lain berpijak pada model Alam
semesta statis. Seorang materialis lain, astronom terkemuka asal Inggris, Sir
Fred Hoyle termasuk yang paling merasa terganggu oleh teori Big Bang. Di
pertengahan abad ke-20, Hoyle mengemukakan suatu teori yang disebut
Steady-state yang mirip dengan teori ‘alam semesta tetap‘ di abad ke-19.
Teori Steady-state menyatakan, alam semesta berukuran tak hingga dan kekal
sepanjang masa. Dengan tujuan mempertahankan paham materialis, teori ini sama
sekali berseberangan dengan teori Big Bang, yang mengatakan bahwa alam semesta
memiliki permulaan. Mereka yang mempertahankan teori steady-state telah lama
menentang teori Big Bang.
Namun, ilmu pengetahuan justru meruntuhkan pandangan mereka. Seiring
bergilirnya waktu Pada Abad ke-19 yang menganggap Penciptaan Alam semesta ini
bermodel statis, Namun pada Abad ke-20 denngan berkembangnya ilmu pengetahuan
dan teknologi meruntuhkan pandangan kuno materialis tersebut,karena telah ditemukan
bahwa Alam Semesta tidaklah tetap tapi terus mengembang. Selain itu berbagai
pengamatan dan perhitungan oleh para ilmuwan menganggap bahwa Alam semesata ini
memiliki permulaan dan diciptakan dari ledakan raksasa. Fenomena ini lah yang
berdasarkan fakta telah diterima. Penemuan dimungkinkan Melalui berbagai
pengamatan dan penemuan revolusioner.
3. Teori Ekspansi dan Kontraksi
Teori
ini berpendapat bahwa ada suatu siklus di jagat raya. Satu siklus mengalami
satu masa ekspansi dan satu masa kontraksi. Satu siklus diperkirakan
berlangsung selama 30 milyar tahun. Dalam masa ekspansi terbentuklah
galaksi-galaksi serta bintang-bintang di dalamnya. Ekspansi ini diakibatkan
oleh adanya reaksi inti hydrogen yang pada akhirnya membentuk unsur-unsur lain
yang komplek. Pada masa kontraksi, galaksi-galaksi dan bintang-bintang yang
telah terbentuk meredup dan unsure-unsur yang telah terbentuk menyusut dengan
mengeluarkan tenaga berupa panas yang sangat tinggi. Disebut juga Oscillating
Theory (teori mengembang dan memampat).
4. Teori Nebular
Hipotesis ini dikemukakan pertama kali oleh Laplace pada tahun 1796. Ia
yakin bahwa sistem tata surya terbentuk dari kondensasi awan panas atau kabut
gas yang sangat panas. Pada proses kondensasi tersebut ada sebagian yang
terpisah dan merupakan cincin yang mengelilingi pusat. Bagian yang mengelilingi
pusat itu dengan cara yang sama berkondensasi membentuk suatu formula yang
serupa dengan terbentukya matahari tadi. Setelah mendingin benda-benda ini akan menjadi planet-planet seperti Bumi
dengan benda-benda yang mengelilinginya berupa sateliti atau bulan. Dapat
dibayangkan bahwa berdasarkan teori ini, planet Saturnus yang dikelilingi ileh
cincin Saturnus itulah merupakan bakal satelitnya. Salah satu keberatan dari
hipotesis ini adalah ditemukannya dua biah bulan pada Jupiter dan sebuah bulan
diSaturnus yang berputar berlawanan arah dengan rotasi planet-planet tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa satelit tersebut bukan merupakan bagian dari
planetnya sesuai dengan hipotesis Laplace.
5. Teori Planettesimal
Dikemukakan pertama kali oleh Chamberlin dan Moulton.Hipotesis ini bertitik
tolak dari pemikiran yang sama dengan teori nebular yaitu bahwa sistem tata
surya ini terbentuknya dari kabut gas yang sangat besar yang berkondensasi.
Perbedaannya adalah terletak pada asumsu bahwa terbentuknya plante-planet itu
tidak harus dari satu badan tetapi diasumsikan ada bintang besar lain yang
kebetulan sedang lewat dekat bintang dimana tata surya kita merupakan
bagiannya. Kabut gas dari bintang lain itu sebagaian terpengaruh ileh daya
tarik kita dengan setelah mendingin terbentuklah benda-benda yang disebut
planettesimal. Planettesimal merupakan benda-benda kecil yang padat. Karena
daya tarik menarik antar benda itu sendiri, benda-benda kecil tersebut akan
bergumpal menjadi besar dan menjadi panas. Hal ini disebabkan oleh tekanan
akibat akumulasi dari massanya. Teori ini daptat menjawab pertanyaan mengapa
ada satelit-satelit pada Jupiter maupun pada Saturnus yang mempunyai orbit
berlawanan dengan rotasi planet-planet itu.
6. Teori Tidal atau Teori Pasang Surut
Teori ini diungkapkan pertama kali oleh James Jeans dan Harold Jeffreys
pada tahun 1919. Menurut teori ini planet itu merupakan percikan dari Matahari
yaitu seperti percikan matahari yang sampai kini masih nampak ada. Percikan
tersebut disebut “tidal”. Tidal yang besar yang kemudian akan menjadi planet
itu disebabkan karena adanya dua buah matahari yang bergerak saling mendekat.
Peristiwa ini tentu arang sekali terjadi namun bila ada dua buah bintang yang
bergerak mendekat satu dengan yang lain maka akan terbentuklah planet-planet
baru seperti teori tersebut di atas.
7. Teori Bintang Kembar
Menurut teori ini, kemungkinan dahulu matahari merupakan sepasang bintang
kembar. Oleh karena sesuatu sebab, salah satu bintang meledak dan oleh gaya
tarik gravitasi bintang yang satunya (Matahari yang sekarang), pecahan tersebut
tetap berada di sekitar dan beredar mengelilinginya.
8. Teori Creatio Continua
Teori ini dikemukakan oleh Fred Hoyle, Bendi, dan Gold. Menurut teori
cratio continua atau continuous creation, saat diciptakan, alam semesta ini
tidak ada. Alam semesta ini selamanya ada dan akan tetap ada, atau dengan kata
lain alam semesta ini tidak pernah bermula dan tidak akan berakhir. Pada setiap
saat, ada partikel yang dilahirkan dan ada yang lenyap. Partikel-partikel
tersebut kemudian mengembun menjadi kabut-kabut spiral dengan bintang-bintang dan
jasad-jasad alam semesta. Karena partikel yang dilahirkan lebih besar daripada
yang lenyap, maka jumlah materi semakin bertambah dan mengakibatkan pemuaian
alam semesta. Pengembangan ini akan mencapai titik batas kritik pada 10 miliar
tahun lagi. Namun, dalam waktu 10 miliar tahun ini akan dihasilkan kabut-kabut
baru. Menurut teori ini, 90% materi alam semesta adalah hidrogen. Dari hidrogen
ini akan terbentuk hedium dan zat-zat lainnya.
9. Teori G.P. Kiper
Pada tahun 1950 G.P, Kuiper mengajukan teori berdasarkan keadaan yang
ditemui di luar tata surya dan menyarakan penyempurnaan atas teori-teori yang
telah dikemukakan yang mengandaikan bahwa Matahari serta semua planet yang
berasal dari gas purba yang ada di ruang angkasa. Pada saat ini, terdapat banyak
kabut gas dan diantara kabut terlihat dalam proses melahirkan bintang.
Sebelum abad ke-17, para ahli
menganggap bahwa mahluk hidup terjadinya dengan sendirinya dari mahluk hidup.
Anggapan ini disebut teori generatio spontanea atau abiogenesis. Pendapat ini
begitu ekstrim, misalnya kecebong berasal dari lumpur, ulat berasal dari
bangkai, bahkan dari gandum dapat langsung jadi tikus hanya dalam waktu satu
malam.
Francesco Redi
(1626-1697), ahli Biologi dari Italia, dapat membuktikan bahwa ukat pada bangkai
berasal dari telur lalat, yang meletakkan telurnya dengan sengaja. Dari
berbagai percobaan, mendapatkan peristiwa yang serupa. Ia mengemukakan pendapat
bahwa kehidupan berasal dari telur atau comne vivum ex ovo.
Lazzaro Spallanzani
(1729-1799) juga ahli biologi dari Italia, dengan eksperimen terhadap kaldu
membuktikan bahwa jasad renik yang mencemari kaldu dapat membusukkan kaldu itu.
Bila kaldu ditutup rapat setelah mendidih, maka tak terjadi pembusuka. Ia
mengambil kesimpulan, bahwa untuk adanya telur harus ada jasad hidup, atau omne
ovum ex vivum.
Louis Pasteur
(1822-1895) sarjana Perancis, melanjutkan teori Spallanzani, dengan eksperimen
berbagai jasad renik. Ia mendukungnya, meskipun banyak yang menentang. Kemudian
menarik kesimulan bahwa harus ada kehidupan sebelumnya agar tumbuh kehidupan
baru atau omne vivum ex vivum. Timbullah teori biogenesis, sedangkan teori
abiogenesis rupa-rupanya telah terkalahkan. Akan tetapi asal mula kehidpan
masuih tetap jadi pikiran para ilmuwan.
Sedemikian jauh
hampir semua para ahli biologi sependapat bahwa pemula kehidupan terjadi di
bumi ini, tidak diluar bumi. Mereka menemukan mahluk hidup bersel satu sebagai
poemula kehidupan. Kemudian terjadi evolusi organik menjadi oraganisme bersel
banyak, Porifera-Coe;emterata-Vermes-Echinodermata-Molusca Arthropoda-
Veterbrata, dan manusia paling akhir.
Teori asal muasal
manusia tidak akan terlepas dari teori-teori diatas. Barangkali penemuan yang
paling sering dijadikan referensi bagi para penganut evolusionisme adalah pemikiran
seorang Charles Darwin. Penemuan Darwin memberikan petunjuk bahwa manusia
adalah keturunan dari mahluk yang bukan manusia menimbulkan banyak reaksi yang
pro dan kontra di kalangan masyarakat ilmiah. Terlebih karena manusia mempunyai
persamaan-persamaan dengan kera, sedangkan persamaan-persamaan itu menunjukkan
adanya kekerabatan.
Pada tahun 1842,
Darwin telah menyusun kerangka teorinya dan esai setebal 250 halaman yang
selesai tahun 1844, kemudian baru diterbitkan bukunya berjudul The Origin of
Species dan On the Origin of the Species by Means of Natural Selection tahun
1859 dan The Origin of Man tahun 1871 yang kemudian terkenal dengan teori
evolusi Darwin.
Berkaitan dengan
asal-usul kehidupan, berdasarkan pemikiran Darwin tentang seleksi alam dalam
evolusi spesies, prinsip-prinsip yang ditemukan Darwin yang dianggap dapat
memberikan petunjuk adanya evolusi itu antara lain sebagai berikut:
1. Adanya variasi antara individu-individu
dalam satu keturunan, artinya tidak ada dua individu yang mempunyai sifat yang
persis sama benar bahkan kembar satu telur sekalipun, tidak pernah ada dua
individu yang persis sama baik sifat, bentuk, kefaalan, warna kulit, berat
badan dan kebiasaan-kebiasaan. Selalu ada perbedaan, ini berarti suatu spesues
dapat mempunyai beberapa variasi. Jika beberapa varian jatuh dalam suatu
lingkungan tertentu yang sangat berbeda. Darwin telah mengetahuo bahwa
pertumbuhan suatu variasi sangat dipengaruhi
oleh faktor-faktor luar, seoerti temperatur, keadaan tanah, makanan dan
lain-lain.
2. Adanya pengaruh penyebaran geografis
terhadap evolusi individu dari suatu spesies ke spesies lainnya. Contohnya
burung-burung yang ada di Kepulauan Galapgops yang berasal dari daratan Amerika
Selatan berbeda dengan burung-burung yang ada di Kepulauan Cape Verde yang
terletak sebelah barat Afrika, sedangkan binatang itu berasal dari panti
Afrika.
3. Ditemukannya fosil-fosil di berbagai
lapisan batuan bumi yang menunjukkan adanya perubahan secara berangsur-angsur.
Menurut Darwin, ditemukannya fosil-fosil di berbagai lapisan batuan bumi
menunjukkan adanya perubahan secara berangsur-angsue dari suatu spesies
berevolusi menjadi spesies baru. Fosil sebagai catatan sejarah merupakan alasan
utama untuk pembenaran tentang teori evolusinya.
4. Adanya homologi antara organ sistem pada
mahluk hidup merupakan petunjuk terjadinya evolusi suatu spesies, yaitu
hibingan kekerabatan struktur organ tubuh di antara anggota-anggota veterbrata
dengan memperbandingkan anatomi lengan kelompok vertebrata.
5. Adanya data sebagai hasil studi mengenai
komperatif perkembangan embrio. Perbandingan fase embrio pada berbagai hewan.
Pada pembiakan yang dilakukan hewan yang dimunculkan ileh biolog Ernest Haeckel
dan ilmuwan lainnya yang mencetuskan teori rekapitulasi. Hal ini didasarinya bahwa perkembangan embrio
nenek moyang mereka di zaman purba karena embrio empat jenis hewan vertebrata,
mulai tingkat pembuahan, pertemuan sperma dengan telur, hasilnya adalah zigote
yang akan mengalami ptahapan-tahapan menuju embrio.
B. Proses Terbentuknya Alam Semesta
Pertentangan antara
ilmu dan iman yang umumnya terjadi di Barat sebenarnya terjadi karena keliru
memahami pemikiran Ibnu Rusyd (Averroes). Para pemikir Eropa saat itu mengakui
bahwa terdapat kebenaran ganda (double truth) yang tidak dapat dipisahkan, yaitu
kebenaran keimanan (agama) dan kebenaran (falsafah). Ini menurut pembuktian
ahli sejarah di Barat sendiri, merupakan kesalahpahaman terhadap filsuf Muslim
pembawa rasionalitas ke Eropa. Sebab sesungguhnya Ibnu Rusyd tidaklah
mengajarkan tentang dua kebenaran yang terpisah dan tidak dapat didamaikan. Ia
hanya mengajarkan seiring dengan pandangan yang umum dikalangan para filsuf
Muslim, bahwa kebenaran adalah tunggal adanya, namun kemampian manusia
memahaminya berbeda-beda setaraf dengan kapasitas inteleknya, yaitu pemahaman
rasional dan pemahaman retorik yang ada pada kaum awam, kemudian kemudian
menengahi antara keduanya ialah pemahaman dialketis pada kalangan para
teolog[7]
Kembali ke
pembahasan mengenai ilmu alamiah dalam konteks ini tentang penciptaan alam
semesta, tidak dapat dipisahkan dari petunjuk-petunjuk yang tertera dalam kitab
suci al-Quran. Surat Fushilat ayat 9-12 menyajikan proses pembuatan alam
semesta oleh Allah:
1. (41:9) Bumi di ciptakan dalam dua masa
2. (41:10) Segala isi Bumi diciptakan total
dalam empat masa
3. (41:11) Kemudian Dia menuju kepada
penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata
kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan
suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.”
Surat diatas jelas menunjukan bahwa kedudukan Bumi dan Langit adalah sederajat,
bumi bukan bagian dari langit. Bumi diciptakan terlebih dahulu, diselesaikan
baru kemudian Allah menyelesaikan Langit dan itu dibuktikan di ayat selanjutnya
4. (41:12) Maka Dia menjadikannya tujuh
langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami
hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami
memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa
lagi Maha Mengetahui.
Juga digambarkan
dalam Al Qur’an pada ayat berikut: “Dialah pencipta langit dan bumi.” (QS:
6:101). Keterangan yang diberikan Al Qur’an ini bersesuaian penuh dengan
penemuan ilmu pengetahuan masa kini. Kesimpulan yang didapat astrofisika saat
ini adalah bahwa keseluruhan alam semesta, beserta dimensi materi dan waktu,
muncul menjadi ada sebagai hasil dari suatu ledakan raksasa yang tejadi dalam
sekejap.
Peristiwa ini, yang
dikenal dengan “Big Bang“, membentuk keseluruhan alam semesta sekitar 15 milyar
tahun lalu. Jagat raya tercipta dari suatu ketiadaan sebagai hasil dari ledakan
satu titik tunggal. Kalangan ilmuwan modern menyetujui bahwa Big Bang merupakan
satu-satunya penjelasan masuk akal dan yang dapat dibuktikan mengenai asal mula
alam semesta dan bagaimana alam semesta muncul menjadi ada.
Sebelum Big Bang,
tak ada yang disebut sebagai materi. Dari kondisi ketiadaan, di mana materi,
energi, bahkan waktu belumlah ada, dan yang hanya mampu diartikan secara
metafisik, terciptalah materi, energi, dan waktu. Fakta ini, yang baru saja
ditemukan ahli fisika modern, diberitakan kepada kita dalam Al Qur’an 1.400
tahun lalu.
Sensor sangat peka
pada satelit ruang angkasa COBE yang diluncurkan NASA pada tahun 1992 berhasil
menangkap sisa-sisa radiasi ledakan Big Bang. Penemuan ini merupakan bukti
terjadinya peristiwa Big Bang, yang merupakan penjelasan ilmiah bagi fakta
bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan[8].
Teori Big Bang ini
berpijak pada suatu logika yang dipakai dalam memberi basis pengetahuan dalam
teologi, logika ini kita kenal denga logika sebab akibat atau logika
kausalitas. Logika kausalitas menampilkan suatu cara berpikir yang meletakkan
suatu hal terkait dengan yang lain dalam suatu relasi sebab akibat[9].
Dengan menggunakan
logika kausalitas tadi, kita sepakat bahwa alam semesta ini adalah akibat dari
suatu sebab, dan sebab itu adalah akibat dari sebab lain dan seterusnya sampai
terdapat sebab awal (prima causa). Sebab awal inilah yang kita sebut Tuhan. Logika
kausalitas ini ternyata mempunyai kesamaan dengan teori Big Bang yang
menyatakan bahwa alam semesta tercipta karena ledakan yang terjadi dari suatu
titik nol. Sehingga bumi dan langit yang awalnya satu kemudian terpisahkan.
Fakta ini relevan dengan apa yang
tertlis dalam al-Quran; “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa
langit dan bumi dulu adalah satu, dan Kami pisahkan keduanya. Dan dari air Kami
jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak juga beriman
?[10]”.
Kutipan dari Dr.
Maurice Buchaile tentang ayat-ayat penciptaan alam semesta di al-Quran:
Berhadapan dengan ayat-ayat al-quran tentang proses penciptaan alam semesta ada
lima dasar yang menjadi landasan Qur-an untuk menceritakan tentang penciptaan
alam :
1. Enam masa daripada penciptaan
langit-langit dan bumi, menurut Qur-an, meliputi terbentuknya benda-benda
samawi, terbentuknya bumi dan perkembangan bumi sehingga dapat dihuni manusia.
Untuk hal yang terakhir ini, Qur-an mengatakan, segala sesuatu terjadi dalam
empat waktu. Apakah empat waktu itu merupakan zaman-zaman geologi dalam Sains
modern, karena menurut Sains modern, manusia timbul pada zaman geologi ke
empat? Ini hanya suatu hipotesa; tetapi tak ada jawaban terhadap soal ini.
Tetapi perlu kita perhatikan bahwa untuk pembentukan benda-benda samawi dan
bumi sebagai yang diterangkan dalam ayat 9 sampai dengan 12, surat 4,
diperlukan dua tahap. Sains memberi tahu kepada kita bahwa jika kita mengambil
contoh (satu-satunya contoh yang sudah mungkin diketahui) daripada pembentukan
matahari dan embel-embelnya, yakni bumi, prosesnya melalui padatan (kondensasi)
nebula (kelompok gas) dan perpecahannya. Ini adalah yang dikatakan oleh Qur-an
secara jelas dengan proses yang mula-mula berupa asap samawi, kemudian menjadi
kumpulan gas, kemudian berpecah. Di sini kita dapatkan persatuan yang sempurna
antara penjelasan Qur-an dan penjelasan Sains.
2. Sains telah menunjukkan simultanitas
antara dua kejadian pembentukan bintang (seperti matahari) dan pembentukan
satelit-satelitnya, atau salah satu satelitnya (seperti bumi). Bukankah
simultanitas ini telah nampak juga dalam teks Qur-an seperti yang telah kita
ketahui.
3. Nampak persesuaian antara wujudnya asap
pada permulaan terciptanya kosmos, yaitu asap yang dipakai oleh Qur-an untuk
menunjukkan gas yang banyak dalam materi yang menjadi asal kosmos dan konsep
Sains modern tentang nebula primitive (kelompok gas asli).
4. Kegandaan langit-langit yang diterangkan
oleh Qur-an dengan simbul angka 7 yang sudah kita fahami artinya telah
dibenarkan oleh Sains modern dalam pernyataan ahli-ahli astrofisika tentang
sistem galaksi dan jumlahnya yang amat besar. Di lain fihak wujudnya bumi-bumi
yang mirip dengan bumi kita dari beberapa aspek adalah suatu hal yang dapat kita
fahami daripada teks Qur-an, tetapi sampai sekarang Sains belum dapat
membuktikannya. Bagaimanapun keadaannya, para spesialis menganggap bahwa adanya
bumi semacam itu sangat mungkin.
5. Adanya suatu penciptaan pertengahan
antara langit-langit dan bumi seperti yang dijelaskan Qur-an dapat dimengerti
dengan diketemukannya jembatan-jembatan materi yang terdapat di luar sistim
astronomik teratur.
Jika segala soal
yang ditimbulkan oleh ayat-ayat Qur-an sampai sekarang belum dapat diterangkan
secara menyeluruh oleh ilmu pengetahuan, sedikitnya tak terdapat pertentangan
antara ayat-ayat Qur-an dan pengetahuan modern tentang penciptaan kosmos.
Ketika kita
bandingkan penjelasan ayat tersebut dengan berbagai penemuan ilmiah, akan kita
pahami bahwa keduanya benar-benar bersesuaian satu sama lain. Yang sungguh
menarik lagi, penemuan-penemuan ini belumlah terjadi sebelum abad ke-20
melainkan pada abad 7 Masehi disaat dunia Barat sedang mengalami abad-abad
kegelapan (Dark Ages).
1. Teori Big Bang
Tahapan terjadinya
Ledakan Besar (Big Bang) sebagai berikut:
a. Segera setelah
terjadi dentumen besar, alam semesta mengembang dengan cepat hingga menjadi
kira-kira 2000 kali matahari.
b. Sebelum berusia
satu detik, semua partikel hadir dalam keseimbangan, satu detik setelah
dentuman, alam semesta membentuk partikel-partikel dasar yaitu elektron,
proton, neutron dan neutrino pada suhu 10 milyar kelvin.
c. Kira-kira 500
ribu tahun telah terjadi ledakan, lambat laun alam semesta menjadi dingin
hingga mencapai suhu 3000 K. Partikel-partikel dasar membentuk benih kehidupan
alam semesta.
d. Gas hidrogen dan
helium membentuk kelompok-kelompok gas rapat yang tak teratur, dalam
kelompok-kelompok tersebut mulai terbentuk protogalaksi.
e. Antara satu dan
dua milyar tahun setelah terjadinya dentuman besar protogalaksi melahirkan
bintang-bintang yang lambat laun berkembang menjadi rakasa merah dan supernova
yang merupakan bahan baku kelahiran bintang-bintang baru dalam galaksi.
f. Satu diantara
miliaran galaksi adalah galaksi bimasakti yang didalamnya adalah tata surya
kita dengan matahari sebagai bintang yang terdekat dengan bumi.
BAB III
KESIMPULAN
Alam semesta adalah wilayah di luar planet kita yang
disebut ruangangkasa beserta seluruh isinya seperti planet – planet dan bintang
- bintang
Proses terjadinya alam semesta di awali dengan peristiwa
Ledakan Besar. Materi dan partikel hasil ledakan tersebut saling menjauh
kemudian alam semesta yang baru saja terbentuk begitu panas dan berukuran
kecil. Pada awalnya semesta tersebut berputar dengan kecepatan tinggi dan
menyemburkan percikan – percikan bola api. Mulailah terbentuk bahan – bahan
semesta tersebut. Seiring dengan bertambah besarnya balon tersebut, semesta
menjadi lebih dingin. Kemudian terbentuklah gas hydrogen. Gas tersebut kemudian
pecah menjadi gumpalan – gumpalan gas. Gumpalan tersebut membentuk gugusan
galaksi dan bintang.
Beberapa teori tentang asal usul alam semesta : teori
materialism, teori alam semesta berosilasi, teori alam semesta kuantum, teori keadaan
stabil, teori Big Bang, Teori Penciptaan
Peristiwa Big Bang (Ledakan Besar) adalahledakan sebuah
massa yang mempunyai volume nol dikarenakan massa ini memiliki gaya gravitasi
yang sangat kuat. Hasil ledakan ini yang membentuk alam semesta.
Hingga saat ini alam semesta terus berkembang. Para
Ilmuwan tidak mengetahui sampai kapan alam semesta berkembang dan berapa luas
alam semesta itu.
Daftar Pustaka




