Tuesday, December 11, 2018

JILBAB DAN AKHLAK


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Sahabat shalihah jilbab dan akhlak adalah 2 hal yang berbeda. Kita tidak boleh mudah menjudge orang buruk atau baik karena apa yang tampak di mata kita. Yang berjilbab belum tentu baik dan yang tidak berjilbab belum tentu buruk.
Image result for jilbab dan akhlak itu berbeda
Banyak orang disekitar kita mengatakan buruk tentang cadar dan tidak sedikit yang bilang percuma mengenakan hijab tapi akhlak buruk, tidak melaksanakan shalat, pacaran, dan lain sebagainya. Berjilbab bukanlah pertanda bahwa kita telah suci, tak luput dari dosa karena manusia tak akan pernah luput dari kesalahan setidaknya hargailah mereka yang berusaha menunaikan kewajiban. Berhijab merupakan kewajiban setiap muslimah yang tertera di Al-Qur’an (QS. al-Azhab : 59) dan (QS. an-Nur : 31).
Surat al-ahzab ayat 59 :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Surat an-Nur ayat 31 :

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
Sudah jelas bahwa berjilbab merupakan kewajiban. Sama halnya dengan shalat. Shalat hukumnya wajib, sama dengan berhijab. Dan apakah untuk mendirikan shalat kita harus jadi baik dulu? Tidak, seperti apapun kelakuan kita yang namanya kewajiban harus dipenuhi. Baik pencuri, koruptur, dan siapapun harus menunaikan kewajiban.
Sama halnya dengan hijab. Hukumnya wajib. Yang namanya kewajiban tidak harus menunggu menjadi orang baik dulu. Setidaknya telah melakukan kewajiban sebagai muslimah, masalah perilaku kembali pada diri kita masing-masing. Jilbab adalah murni perintah Al-Qur’an dan itu hukumnya wajib bagi kita muslimah, dan akhlak adalah budi pekerti tergantung pribadi masing-masing. Jadi jika ada yang berhijab tapi masih belum baik akhlaknya bukan jilbabnya yang salah tapi akhlaknya. 
Hijrah dalam bentuk apapun tidaklah mudah, hidayah itu mahal, maka jangan jadikan “manusia” dan “ego” sebagai alasan kita pakai atau lepas jilbab, jadikan semua semata-mata karena ketaatan kita kepada Allah.
Semoga para muslimah tetap istiqomah berhijab hingga akhir hayat. Dan semoga Allah memberi hidayah kepada para muslimah yang melepas jilbabnya.


Tuesday, November 20, 2018

PROSES TERBENTUKNYA ALAM SEMESTA DAN ASAL USUL KEHIDUPAN MENURUT SAINS DAN ISLAM


TUGAS IAD/IBD/ISD
PROSES TERBENTUKNYA ALAM SEMESTA DAN ASAL USUL KEHIDUPAN
Related image

NAMA KELOMPOK :
Reza Fajar Muhammad (B05218030)
Rinka Rizki Rahmawati (B95218132)
Riqqah Azzahra Leviasari
Rizky Alisah Febriana (B75218079)
Thery Andhiny (B75218085)
Tevin Albert Matuli (B95218143)
Ulliya Azmiah (B75218087)
Wahyu Tita Amalaia (B95218144)
Zahrotul Firdausi (B05218037)

ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2018


KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur kami haturkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah memberikan banyak nikmat, taufik dan hidayah. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Proses Terbentuknya Alam Semesta dan Asal Usul Kehidupan” dengan baik tanpa ada halangan yang berarti.

Makalah ini telah kami selesaikan dengan maksimal berkat kerjasama dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu kami sampaikan banyak terima kasih kepada segenap pihak yang telah berkontribusi secara maksimal dalam penyelesaian makalah ini.
Diluar itu, penulis sebagai manusia biasa menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, baik dari segi tata bahasa, susunan kalimat maupun isi. Oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati, kami selaku penyusun menerima segala kritik dan saran yang membangun dari pembaca.
Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga makalah ini dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat nyata untuk masyarakat luas dan untuk kami sendiri.
















Surabaya, 21 September 2018



Penulis



DAFTAR ISI


Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I
A.    Latar Belakang
B.     Rumusan Masalah
C.     Tujuan
BAB II
A.    Teori Sains Modern dan Islam Tentang
Asal Usul Kehidupan di Muka Bumi
B.     Proses Timbulnya Alam Semest Berdasarkan
 Sains Modern dan Islam
C.     Mengkritisi Teori Sains Modern Tentang Proses
Terbentuknya Alam Semesta dan Asal Usul
 Kehidupan di Muka Bumi Berdasar Konsep Islam
BAB III
A.    Kesimpulan
Daftar Pustaka







BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Alam semesta didefinisikan sebagai ruang dan waktu dimana semua energi dan materi berpadu. Terjadinya alam semesta telah dipelajari oleh manusia sejak dahulu. Dari waktu ke waktu sejalan dengan perkembangan akal pikiran manusia yang diikuti oleh kemajuan teknologi, pandangan terhadap alam semesta semakin luas.
Bumi yang saat ini kita tempati dengan segala isinya yang senantiasa kita nikmati, tentunya tidak terjadi begitu saja, tidak ada dengan sendirinya tanpa ada hal besar yang melatarbelakangi.  Jika kita melihat Al-Qur’an, jelas Allah mengatakan bahwa pada mulanya bumi dan langit adalah satu kesatuan yang tidak terpisah. Tetapi kemudian Allah menjadikannya dua bagian yang terpisah seperti halnya yang kita lihat saat ini.
Inilah yang menjadi dasar ketertarikan para ilmuwan dan peneliti untuk menulusuri lebih mendalam tentang proses alam semesta. Berbagai teori kemudian muncul sebagai akibat dari adanya penelitian ilmiah terkait hal itu. Ada George Lemaitre sebagai motor dari teori letusan hebat (Bing Bang), juga ada Astronomi Inggris Fred Hoyle yang memotori teori keadaan tepat.
Pengetahuan yang mendalam tentang alam semesta akan meningkatkan intensitas keimanan sebagai akibat dari munculnya rasa syukur yang mendalam dan rasa takjub akan kebesaran Allah yang. Sangat mustahil jika alam semesta yang demikian luas tidak ada yang mengaturnya. Bergantinya bulan dan matahari, siang dan malam, musim hujan dan musim panas, tentulah ada kekuatan dahsyat yang mengatur itu, dan itu tidak lain adalah Allah SWT yang berfirman :

 إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ﴿ە۱۹ ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًۭا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ﴿۱۹۱
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. [Ali ‘Imran/3:190-191]

Sebagai mana kita tahu bahwa alam semesta ini banyaklah terdapat teka-teki yang perlu kita kaji akan kebenaran teori-teori dan Al-Qur’an sebagai pedoman umat Islam yang berisi tentang segala objek dan referensi yang utama dalam setiap kegiatan ilmiah dimanapun.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana proses timbulnya alam semesta berdasarkan sains modern dan Islam?
2.      Bagiamana teori sains modern dan Islam tentang asal usul kehidupan di muka bumi?
3.      Bagaimana mengkritisi teori sains modern tentang proses terbentuknya alam semesta dan asal usul kehidupan di muka bumi berdasar konsep Islam

C.     Tujuan
1.      Mengetahui proses timbulnya alam semesta berdasarkan sains modern dan Islam
2.      Mengetahui teori sains modern dan Islam tentang asal usul kehidupan di muka bumi
3.      Dapat mengkiritisi teori sains modern tentang proses terbentuknya alam semesta dan asal usul kehidupan di muka bumi berdasar konsep Islam





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Teori Timbulnya Alam Semesta Berdasarkan Sains Modern dan Islam
Alam semesta merupakan suatu hamparan atau ruangan yang sangat luas yang tidak diketahui juga berapa luasnya. Diperkirakan alam semesta berbentuk melengkung dan dalam keadaan memuai serta terdiri dari galaksi-galaksi atau . sistem bintang yang jumlahnya ribuan.
Menurut orang Babylonia, alam semesta merupakan suatu ruangan atau selungkup dengan bumi yang datar sebagai lantainya dan langit beserta bintang sebagai atapnya. Jadi alam semesta adalah suatu ruangan yang sangat luas yg didalamnya terdapat kehidupan botik dan abiotik, serta didalamnya juga terjadi banyak peristiwa alam baik yang dapat diungkapkan oleh manusia atau yang tidak dapat diungkapkan oleh manusia.
Immanuel Kant (1749-1827), seorang ilmuwan filsafat jerman yang membuat suatu hipotesis tentang terbentuknya tata surya. Menurut Kant:
“Dijagat raya terdapat gumpalan kabut yang berputar perlahan-lahan sehingga lama kelamaan bagian tengan kabut itu berubah menjadi gumpalan gas yang kemudian membentuk matahari, dan bagian kabut disekelilingnya membentuk planet-planet, satelit, dan benda-benda langit lainnya.”
Seorang ilmuwan fisika Prancis bernama Pierre Simon de laplace mengemukakan teori yang hampir sama dan pada waktu yang bersamaan. Menurut Laplace:
“Tata surya berasal dari kabut panas yang berputar sehingga membentuk gumpalan kabut yang pada akhirnya menjadi berbentuk bulat seperti bola besar. Akibatnya putarannya itu, bentuk bola itu memepat pada kutubnya dan melebar pada bagian equatornya. Kemudian, sebagian massa gas pada equatornya menjauh dari gumpalan intinya membentuk cincin-cincin yang melingkari intinya. Dalam jangka waktu yag cukup lama cincin-cincin itu berubah menjadi gumpalan padat. Gumpalan kecil-kecil inilah yang membentuk planet-planet dengan satelitnya dan benda langit lainnya, sedangkan inti kabut tersebut tetap berbentuk gas pijar yang akhirnya disimpulkan menjadi matahari.”
Persamaan kedua teori diatas, terletak pada material asal pembentuk tata surya, yaitu teori kabut (nebula), sehingga kedua teori itu disebut Teori Nebula atau Teori Kabut, atau lebih dikenal dengan nama Teori Kant dan Laplace.

Berikut ini beberapa teori" yang menjelaskan tentang terbentuknya alam semesta menurut para ilmu sains dan Al- Qur'an.
Teori Para Ahli:
1.      Teori Big Bang
Dalam pandangan sains modern, pada awalnya alam semesta ini masih berupa kabut gas yang panas dan kemudian terpisah. Terpisahnya kabut gas ini merupakan proses awal terciptanya galaksi-galaksi. Dari pecahan-pecahan kabut gas tersebut selanjutnya melalui proses evolusi terbentuk miliyaran matahari dengan planet-planet, termasuk bumi yang kita huni ini. Ilmuwan cerdas yang pertama kali mengemukakan teori ini bernama Laplace dari Perancis dan Immanue Kant dari Jerman.

Alam semesta merupakan ruang kosong maha luas tanpa batas, tanpa sinar terang, tanpa gaya apapun, tanpa gravitasi apapun, tidak ada pengertian atas dan bawah, juga tidak ada pengertian utara-selatan, timur-barat, yang didalamnya berisi 1 miliar galaksi dan tiap-tiap galaksi terdiri dari 100 miliar bintang, dimana tiap-tiap bintang adalah matahari dengan tata suryanya sendiri-sendiri.
Pandangan mengenai asal-usul alam dapat diamati dari berbagai pemikiran para saintis berabad-abad yang lalu. Dalam era fisika klasik (abad XVII-XVIII), Isaac Newton menggagas bahwa alam semesta ini bersifat statis, tidak berubah status totalitasnya dari waktu tak terhingga lamanya yang telah lampau, sampai waktu tak terhingga lamanya yang akan datang. Gagasan tentang alam tersebut secara tidak langsung menggambarkan bahwa alam tak berawal dan tak berakhir, atau dengan kata lain, alam ada tanpa adanya proses penciptaan.
Pandangan Klasik Newton ini didasarkan pada pengalaman para fisikawan di laboratorium bahwa materi itu bersifat kekal. Pandangan ini kemudian dikukuhkan oleh Lavoisier pada akhir abad XVIII dengan “Hukum Kekekalan Materi”. Pandangan bahwa alam ini kekal kemudian dikenal sebagai Pandangan Klasik Newtonian.
Awal abad XX, muncullah Albert Einstein yang berusaha melukiskan bahwa alam benar-benar statis dalam bentuk rumus matematika yang rumit. Namun, Friedman menyatakan bahwa rumusan Einstein itu justru menggambarkan bahwa alam ini dinamis dan hal inilah yang tepat sehingga dikenal sebagai Model Friedman tentang alam.
Dari gagasan-gagasan di atas maka lahirlah konsepsi bahwa sekitar 15 miliar tahun yang lampau di dalam ruang kosong luas tanpa batas terdapat sebongkahan besar inti atom padat meledak sangat dasyat melepaskan zat hydrogen kesegala arah menjadi galaksi-galaksi bintang, dengan proses pembentukan atom yang lebih berat, sehingga dibumi kita ini terdapat 106 unsur atom. Dan kini sisa energy ledakan itu mengakibatkan materi alam (galaksi-galaksi) saling menjauh. Gagasan mengenai asal-usul alam ini kemudian dikenal sebagai Teori Big Bang.
Teori Big Bang didukung oleh beberapa penemuan mutakhir pertama penemuan Edwin Powell Hubble astronom kebangsaan Amerika Serikat di Observatorium California Mount Wilson tahun 1924 ketika Hubble mengamati bintang-bintang diangkasa melalui teleskop raksasanya ia mendapati bahwa cahaya yang dipancarkan bintang-bintang bergeser ke ujung merah spectrum. Ia pun menemukan bahwa pergeseran ini terlihat lebih jelas jika bintangnya lebih jauh dari bumi. Temuan ini menggemparkan dunia ilmu pengetahuan. Berdasarkan hukum-hukum fisika yang diakui, spectrum sinar cahaya bergerak mendekati titik pengamatan akan cenderung ungu, sementara sinar cahaya yang bergerak menjauhi titik pengamatan akan cenderung merah. Pengamatan Hubble menunjukkan bahwa cahaya dari bintang-bintang cenderung kearah warna merah. Ini berarti bahwa bintang-bintang tersebut senantiasa bergerak menjauhi kita. Tak lama sesudah itu, Hubble membuat temuan penting lainnya: bintang dan galaksi bukan hanya bergerak menjauhi kita, namun juga saling menjauhi. Pengamatan tersebut memberi kesimpulan bahwa berbagai galaksi saling menjauh dengan kecepatan sampai beberapa ribu kilometer per detik. Hal ini berarti bahwa alam sedang berekspansi (meluas/melebar) atau dikatakan bahwa alam bersifat dinamis
Hasil perhitungan cermat Albert Einstein yang menyimpulkan bahwa alam semesta dinamis tidak statis artinya alam semesta terus berkembang. Meskipun pada mulanya terimbas gagasan bahwa alam itu statis, lalu mengembangkan formula matematisnya dan berusaha melukiskan bahwa alam benar-benar statis namun hal itu justru menggambarkan bahwa alam itu dinamis.
Adanya jumlah unsur hydrogen dan helium di alam semesta yang sesuai dengan perhitungan konsentrasi hydrogen dan helium merupakan sisa dari ledakan dahsyat tersebut. Kalau saja alam ini tetap dan abadi maka hydrogen di alam semesta telah habis berbubah menjadi helium.
Peristiwa Big Bang yang ditenggara menandai dimulainya penciptaan alam semesta itu bukan hanya sekedar teori tetapi sudah menjadi keyakinan ilmiah para ilmuwan. Oleh karena itu, dapat diketahui bahwa galaksi-galaksi saling menjauh dengan kecepatan kira-kira 32 kilometer/detik untuk setiap jarak satu juta tahun cahaya, maka dapatlah diperhitungkan bahwa alam semesta ini tercipta dengan proses Big Bang antara 15-20 milyar tahun yang lalu.
2.      Teori Steady State
Teori ini berpendapat bahwa materi yang hilang melalui resesi galaksi-galaksi, karena pengembungan alam yang berlangsung terus menerus digantikan oleh materi yang baru saja tercipta sehingga alam semesta yang terlihat tetap berada dalam keadaan tidak berubah (stady state), artinya bahwa materi secara terus menerus tercipta diseluruh alam semesta. Teori ini sama sekali tidak menyebut peristiwa awal yang bersifat khusus pada waktu atau ruang. Tidak ada awal maupun akhir karena materi diperbarui secara terus menerus di satu tempat sementara di tempat lain dihancurkan.
Embrio Steady State bermula atas dasar pijakan faham Materialis yang memberikan pandangan terhadap penciptaan Alam semesta ini tak berawal dan tak berakhir. Faham Materialis adalah salah satu faham yang berfikir bahwa materi satu-satunya keberadaan mutlak dan menlak selain materi. Faham yang berakar dari Yunani kuno ini mendapat penerimaaan meluas ke abad 15. Dan pandangan ini dikenal dengan Faham Materialis dialektika Karl Mark. Yang beranggapan bahwa faham materialis meyakini model alam semesta tak hingga sebagai dasar berpijak paham Atheis mereka. Misal terdapat dalam buku yang berjudul Principes Fondamentaly De Philoshopie yang di tulis oleh filusuf Materialis George Politzer, beliau mengatakan Alam semesta bukanlah sesuatu yang diciptakan. Beliau menambahkan, jika Alam semesta diciptakan, sudah pasti diciptakan oleh Tuhan dengan seketika dari ketiadaan. Ketika Politzer berpendapat Alam semesta tidak diciptakan dari ketiadaan , yang tidak lain berpijak pada model Alam semesta statis. Seorang materialis lain, astronom terkemuka asal Inggris, Sir Fred Hoyle termasuk yang paling merasa terganggu oleh teori Big Bang. Di pertengahan abad ke-20, Hoyle mengemukakan suatu teori yang disebut Steady-state yang mirip dengan teori ‘alam semesta tetap‘ di abad ke-19.
Teori Steady-state menyatakan, alam semesta berukuran tak hingga dan kekal sepanjang masa. Dengan tujuan mempertahankan paham materialis, teori ini sama sekali berseberangan dengan teori Big Bang, yang mengatakan bahwa alam semesta memiliki permulaan. Mereka yang mempertahankan teori steady-state telah lama menentang teori Big Bang.
Namun, ilmu pengetahuan justru meruntuhkan pandangan mereka. Seiring bergilirnya waktu Pada Abad ke-19 yang menganggap Penciptaan Alam semesta ini bermodel statis, Namun pada Abad ke-20 denngan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi meruntuhkan pandangan kuno materialis tersebut,karena telah ditemukan bahwa Alam Semesta tidaklah tetap tapi terus mengembang. Selain itu berbagai pengamatan dan perhitungan oleh para ilmuwan menganggap bahwa Alam semesata ini memiliki permulaan dan diciptakan dari ledakan raksasa. Fenomena ini lah yang berdasarkan fakta telah diterima. Penemuan dimungkinkan Melalui berbagai pengamatan dan penemuan revolusioner.
3.      Teori Ekspansi dan Kontraksi
Teori ini berpendapat bahwa ada suatu siklus di jagat raya. Satu siklus mengalami satu masa ekspansi dan satu masa kontraksi. Satu siklus diperkirakan berlangsung selama 30 milyar tahun. Dalam masa ekspansi terbentuklah galaksi-galaksi serta bintang-bintang di dalamnya. Ekspansi ini diakibatkan oleh adanya reaksi inti hydrogen yang pada akhirnya membentuk unsur-unsur lain yang komplek. Pada masa kontraksi, galaksi-galaksi dan bintang-bintang yang telah terbentuk meredup dan unsure-unsur yang telah terbentuk menyusut dengan mengeluarkan tenaga berupa panas yang sangat tinggi. Disebut juga Oscillating Theory (teori mengembang dan memampat).
4.      Teori Nebular
Hipotesis ini dikemukakan pertama kali oleh Laplace pada tahun 1796. Ia yakin bahwa sistem tata surya terbentuk dari kondensasi awan panas atau kabut gas yang sangat panas. Pada proses kondensasi tersebut ada sebagian yang terpisah dan merupakan cincin yang mengelilingi pusat. Bagian yang mengelilingi pusat itu dengan cara yang sama berkondensasi membentuk suatu formula yang serupa dengan terbentukya matahari tadi. Setelah mendingin benda-benda  ini akan menjadi planet-planet seperti Bumi dengan benda-benda yang mengelilinginya berupa sateliti atau bulan. Dapat dibayangkan bahwa berdasarkan teori ini, planet Saturnus yang dikelilingi ileh cincin Saturnus itulah merupakan bakal satelitnya. Salah satu keberatan dari hipotesis ini adalah ditemukannya dua biah bulan pada Jupiter dan sebuah bulan diSaturnus yang berputar berlawanan arah dengan rotasi planet-planet tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa satelit tersebut bukan merupakan bagian dari planetnya sesuai dengan hipotesis Laplace.
5.      Teori Planettesimal
Dikemukakan pertama kali oleh Chamberlin dan Moulton.Hipotesis ini bertitik tolak dari pemikiran yang sama dengan teori nebular yaitu bahwa sistem tata surya ini terbentuknya dari kabut gas yang sangat besar yang berkondensasi. Perbedaannya adalah terletak pada asumsu bahwa terbentuknya plante-planet itu tidak harus dari satu badan tetapi diasumsikan ada bintang besar lain yang kebetulan sedang lewat dekat bintang dimana tata surya kita merupakan bagiannya. Kabut gas dari bintang lain itu sebagaian terpengaruh ileh daya tarik kita dengan setelah mendingin terbentuklah benda-benda yang disebut planettesimal. Planettesimal merupakan benda-benda kecil yang padat. Karena daya tarik menarik antar benda itu sendiri, benda-benda kecil tersebut akan bergumpal menjadi besar dan menjadi panas. Hal ini disebabkan oleh tekanan akibat akumulasi dari massanya. Teori ini daptat menjawab pertanyaan mengapa ada satelit-satelit pada Jupiter maupun pada Saturnus yang mempunyai orbit berlawanan dengan rotasi planet-planet itu.
6.      Teori Tidal atau Teori Pasang Surut
Teori ini diungkapkan pertama kali oleh James Jeans dan Harold Jeffreys pada tahun 1919. Menurut teori ini planet itu merupakan percikan dari Matahari yaitu seperti percikan matahari yang sampai kini masih nampak ada. Percikan tersebut disebut “tidal”. Tidal yang besar yang kemudian akan menjadi planet itu disebabkan karena adanya dua buah matahari yang bergerak saling mendekat. Peristiwa ini tentu arang sekali terjadi namun bila ada dua buah bintang yang bergerak mendekat satu dengan yang lain maka akan terbentuklah planet-planet baru seperti teori tersebut di atas.
7.      Teori Bintang Kembar
Menurut teori ini, kemungkinan dahulu matahari merupakan sepasang bintang kembar. Oleh karena sesuatu sebab, salah satu bintang meledak dan oleh gaya tarik gravitasi bintang yang satunya (Matahari yang sekarang), pecahan tersebut tetap berada di sekitar dan beredar mengelilinginya.
8.      Teori Creatio Continua
Teori ini dikemukakan oleh Fred Hoyle, Bendi, dan Gold. Menurut teori cratio continua atau continuous creation, saat diciptakan, alam semesta ini tidak ada. Alam semesta ini selamanya ada dan akan tetap ada, atau dengan kata lain alam semesta ini tidak pernah bermula dan tidak akan berakhir. Pada setiap saat, ada partikel yang dilahirkan dan ada yang lenyap. Partikel-partikel tersebut kemudian mengembun menjadi kabut-kabut spiral dengan bintang-bintang dan jasad-jasad alam semesta. Karena partikel yang dilahirkan lebih besar daripada yang lenyap, maka jumlah materi semakin bertambah dan mengakibatkan pemuaian alam semesta. Pengembangan ini akan mencapai titik batas kritik pada 10 miliar tahun lagi. Namun, dalam waktu 10 miliar tahun ini akan dihasilkan kabut-kabut baru. Menurut teori ini, 90% materi alam semesta adalah hidrogen. Dari hidrogen ini akan terbentuk hedium dan zat-zat lainnya.
9.      Teori G.P. Kiper
Pada tahun 1950 G.P, Kuiper mengajukan teori berdasarkan keadaan yang ditemui di luar tata surya dan menyarakan penyempurnaan atas teori-teori yang telah dikemukakan yang mengandaikan bahwa Matahari serta semua planet yang berasal dari gas purba yang ada di ruang angkasa. Pada saat ini, terdapat banyak kabut gas dan diantara kabut terlihat dalam proses melahirkan bintang.
                  
                   Sebelum abad ke-17, para ahli menganggap bahwa mahluk hidup terjadinya dengan sendirinya dari mahluk hidup. Anggapan ini disebut teori generatio spontanea atau abiogenesis. Pendapat ini begitu ekstrim, misalnya kecebong berasal dari lumpur, ulat berasal dari bangkai, bahkan dari gandum dapat langsung jadi tikus hanya dalam waktu satu malam.

Francesco Redi (1626-1697), ahli Biologi dari Italia, dapat membuktikan bahwa ukat pada bangkai berasal dari telur lalat, yang meletakkan telurnya dengan sengaja. Dari berbagai percobaan, mendapatkan peristiwa yang serupa. Ia mengemukakan pendapat bahwa kehidupan berasal dari telur atau comne vivum ex ovo.

Lazzaro Spallanzani (1729-1799) juga ahli biologi dari Italia, dengan eksperimen terhadap kaldu membuktikan bahwa jasad renik yang mencemari kaldu dapat membusukkan kaldu itu. Bila kaldu ditutup rapat setelah mendidih, maka tak terjadi pembusuka. Ia mengambil kesimpulan, bahwa untuk adanya telur harus ada jasad hidup, atau omne ovum ex vivum.

Louis Pasteur (1822-1895) sarjana Perancis, melanjutkan teori Spallanzani, dengan eksperimen berbagai jasad renik. Ia mendukungnya, meskipun banyak yang menentang. Kemudian menarik kesimulan bahwa harus ada kehidupan sebelumnya agar tumbuh kehidupan baru atau omne vivum ex vivum. Timbullah teori biogenesis, sedangkan teori abiogenesis rupa-rupanya telah terkalahkan. Akan tetapi asal mula kehidpan masuih tetap jadi pikiran para ilmuwan.

Sedemikian jauh hampir semua para ahli biologi sependapat bahwa pemula kehidupan terjadi di bumi ini, tidak diluar bumi. Mereka menemukan mahluk hidup bersel satu sebagai poemula kehidupan. Kemudian terjadi evolusi organik menjadi oraganisme bersel banyak, Porifera-Coe;emterata-Vermes-Echinodermata-Molusca Arthropoda- Veterbrata, dan manusia paling akhir.

Teori asal muasal manusia tidak akan terlepas dari teori-teori diatas. Barangkali penemuan yang paling sering dijadikan referensi bagi para penganut evolusionisme adalah pemikiran seorang Charles Darwin. Penemuan Darwin memberikan petunjuk bahwa manusia adalah keturunan dari mahluk yang bukan manusia menimbulkan banyak reaksi yang pro dan kontra di kalangan masyarakat ilmiah. Terlebih karena manusia mempunyai persamaan-persamaan dengan kera, sedangkan persamaan-persamaan itu menunjukkan adanya kekerabatan.
Pada tahun 1842, Darwin telah menyusun kerangka teorinya dan esai setebal 250 halaman yang selesai tahun 1844, kemudian baru diterbitkan bukunya berjudul The Origin of Species dan On the Origin of the Species by Means of Natural Selection tahun 1859 dan The Origin of Man tahun 1871 yang kemudian terkenal dengan teori evolusi Darwin.

Berkaitan dengan asal-usul kehidupan, berdasarkan pemikiran Darwin tentang seleksi alam dalam evolusi spesies, prinsip-prinsip yang ditemukan Darwin yang dianggap dapat memberikan petunjuk adanya evolusi itu antara lain sebagai berikut:
1.       Adanya variasi antara individu-individu dalam satu keturunan, artinya tidak ada dua individu yang mempunyai sifat yang persis sama benar bahkan kembar satu telur sekalipun, tidak pernah ada dua individu yang persis sama baik sifat, bentuk, kefaalan, warna kulit, berat badan dan kebiasaan-kebiasaan. Selalu ada perbedaan, ini berarti suatu spesues dapat mempunyai beberapa variasi. Jika beberapa varian jatuh dalam suatu lingkungan tertentu yang sangat berbeda. Darwin telah mengetahuo bahwa pertumbuhan suatu variasi sangat dipengaruhi  oleh faktor-faktor luar, seoerti temperatur, keadaan tanah, makanan dan lain-lain.
2.       Adanya pengaruh penyebaran geografis terhadap evolusi individu dari suatu spesies ke spesies lainnya. Contohnya burung-burung yang ada di Kepulauan Galapgops yang berasal dari daratan Amerika Selatan berbeda dengan burung-burung yang ada di Kepulauan Cape Verde yang terletak sebelah barat Afrika, sedangkan binatang itu berasal dari panti Afrika.
3.       Ditemukannya fosil-fosil di berbagai lapisan batuan bumi yang menunjukkan adanya perubahan secara berangsur-angsur. Menurut Darwin, ditemukannya fosil-fosil di berbagai lapisan batuan bumi menunjukkan adanya perubahan secara berangsur-angsue dari suatu spesies berevolusi menjadi spesies baru. Fosil sebagai catatan sejarah merupakan alasan utama untuk pembenaran tentang teori evolusinya.
4.       Adanya homologi antara organ sistem pada mahluk hidup merupakan petunjuk terjadinya evolusi suatu spesies, yaitu hibingan kekerabatan struktur organ tubuh di antara anggota-anggota veterbrata dengan memperbandingkan anatomi lengan kelompok vertebrata.
5.       Adanya data sebagai hasil studi mengenai komperatif perkembangan embrio. Perbandingan fase embrio pada berbagai hewan. Pada pembiakan yang dilakukan hewan yang dimunculkan ileh biolog Ernest Haeckel dan ilmuwan lainnya yang mencetuskan teori rekapitulasi.  Hal ini didasarinya bahwa perkembangan embrio nenek moyang mereka di zaman purba karena embrio empat jenis hewan vertebrata, mulai tingkat pembuahan, pertemuan sperma dengan telur, hasilnya adalah zigote yang akan mengalami ptahapan-tahapan menuju embrio.


B.     Proses Terbentuknya Alam Semesta
Pertentangan antara ilmu dan iman yang umumnya terjadi di Barat sebenarnya terjadi karena keliru memahami pemikiran Ibnu Rusyd (Averroes). Para pemikir Eropa saat itu mengakui bahwa terdapat kebenaran ganda (double truth) yang tidak dapat dipisahkan, yaitu kebenaran keimanan (agama) dan kebenaran (falsafah). Ini menurut pembuktian ahli sejarah di Barat sendiri, merupakan kesalahpahaman terhadap filsuf Muslim pembawa rasionalitas ke Eropa. Sebab sesungguhnya Ibnu Rusyd tidaklah mengajarkan tentang dua kebenaran yang terpisah dan tidak dapat didamaikan. Ia hanya mengajarkan seiring dengan pandangan yang umum dikalangan para filsuf Muslim, bahwa kebenaran adalah tunggal adanya, namun kemampian manusia memahaminya berbeda-beda setaraf dengan kapasitas inteleknya, yaitu pemahaman rasional dan pemahaman retorik yang ada pada kaum awam, kemudian kemudian menengahi antara keduanya ialah pemahaman dialketis pada kalangan para teolog[7]

Kembali ke pembahasan mengenai ilmu alamiah dalam konteks ini tentang penciptaan alam semesta, tidak dapat dipisahkan dari petunjuk-petunjuk yang tertera dalam kitab suci al-Quran. Surat Fushilat ayat 9-12 menyajikan proses pembuatan alam semesta oleh Allah:
1.       (41:9) Bumi di ciptakan dalam dua masa
2.       (41:10) Segala isi Bumi diciptakan total dalam empat masa
3.       (41:11) Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.” Surat diatas jelas menunjukan bahwa kedudukan Bumi dan Langit adalah sederajat, bumi bukan bagian dari langit. Bumi diciptakan terlebih dahulu, diselesaikan baru kemudian Allah menyelesaikan Langit dan itu dibuktikan di ayat selanjutnya
4.       (41:12) Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Juga digambarkan dalam Al Qur’an pada ayat berikut: “Dialah pencipta langit dan bumi.” (QS: 6:101). Keterangan yang diberikan Al Qur’an ini bersesuaian penuh dengan penemuan ilmu pengetahuan masa kini. Kesimpulan yang didapat astrofisika saat ini adalah bahwa keseluruhan alam semesta, beserta dimensi materi dan waktu, muncul menjadi ada sebagai hasil dari suatu ledakan raksasa yang tejadi dalam sekejap.

Peristiwa ini, yang dikenal dengan “Big Bang“, membentuk keseluruhan alam semesta sekitar 15 milyar tahun lalu. Jagat raya tercipta dari suatu ketiadaan sebagai hasil dari ledakan satu titik tunggal. Kalangan ilmuwan modern menyetujui bahwa Big Bang merupakan satu-satunya penjelasan masuk akal dan yang dapat dibuktikan mengenai asal mula alam semesta dan bagaimana alam semesta muncul menjadi ada.
Sebelum Big Bang, tak ada yang disebut sebagai materi. Dari kondisi ketiadaan, di mana materi, energi, bahkan waktu belumlah ada, dan yang hanya mampu diartikan secara metafisik, terciptalah materi, energi, dan waktu. Fakta ini, yang baru saja ditemukan ahli fisika modern, diberitakan kepada kita dalam Al Qur’an 1.400 tahun lalu.
Sensor sangat peka pada satelit ruang angkasa COBE yang diluncurkan NASA pada tahun 1992 berhasil menangkap sisa-sisa radiasi ledakan Big Bang. Penemuan ini merupakan bukti terjadinya peristiwa Big Bang, yang merupakan penjelasan ilmiah bagi fakta bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan[8].

Teori Big Bang ini berpijak pada suatu logika yang dipakai dalam memberi basis pengetahuan dalam teologi, logika ini kita kenal denga logika sebab akibat atau logika kausalitas. Logika kausalitas menampilkan suatu cara berpikir yang meletakkan suatu hal terkait dengan yang lain dalam suatu relasi sebab akibat[9].

Dengan menggunakan logika kausalitas tadi, kita sepakat bahwa alam semesta ini adalah akibat dari suatu sebab, dan sebab itu adalah akibat dari sebab lain dan seterusnya sampai terdapat sebab awal (prima causa). Sebab awal inilah yang kita sebut Tuhan. Logika kausalitas ini ternyata mempunyai kesamaan dengan teori Big Bang yang menyatakan bahwa alam semesta tercipta karena ledakan yang terjadi dari suatu titik nol. Sehingga bumi dan langit yang awalnya satu kemudian terpisahkan. Fakta ini relevan dengan  apa yang tertlis dalam al-Quran; “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi dulu adalah satu, dan Kami pisahkan keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak juga beriman ?[10]”.

Kutipan dari Dr. Maurice Buchaile tentang ayat-ayat penciptaan alam semesta di al-Quran: Berhadapan dengan ayat-ayat al-quran tentang proses penciptaan alam semesta ada lima dasar yang menjadi landasan Qur-an untuk menceritakan tentang penciptaan alam :
1.        Enam masa daripada penciptaan langit-langit dan bumi, menurut Qur-an, meliputi terbentuknya benda-benda samawi, terbentuknya bumi dan perkembangan bumi sehingga dapat dihuni manusia. Untuk hal yang terakhir ini, Qur-an mengatakan, segala sesuatu terjadi dalam empat waktu. Apakah empat waktu itu merupakan zaman-zaman geologi dalam Sains modern, karena menurut Sains modern, manusia timbul pada zaman geologi ke empat? Ini hanya suatu hipotesa; tetapi tak ada jawaban terhadap soal ini. Tetapi perlu kita perhatikan bahwa untuk pembentukan benda-benda samawi dan bumi sebagai yang diterangkan dalam ayat 9 sampai dengan 12, surat 4, diperlukan dua tahap. Sains memberi tahu kepada kita bahwa jika kita mengambil contoh (satu-satunya contoh yang sudah mungkin diketahui) daripada pembentukan matahari dan embel-embelnya, yakni bumi, prosesnya melalui padatan (kondensasi) nebula (kelompok gas) dan perpecahannya. Ini adalah yang dikatakan oleh Qur-an secara jelas dengan proses yang mula-mula berupa asap samawi, kemudian menjadi kumpulan gas, kemudian berpecah. Di sini kita dapatkan persatuan yang sempurna antara penjelasan Qur-an dan penjelasan Sains.
2.       Sains telah menunjukkan simultanitas antara dua kejadian pembentukan bintang (seperti matahari) dan pembentukan satelit-satelitnya, atau salah satu satelitnya (seperti bumi). Bukankah simultanitas ini telah nampak juga dalam teks Qur-an seperti yang telah kita ketahui.
3.       Nampak persesuaian antara wujudnya asap pada permulaan terciptanya kosmos, yaitu asap yang dipakai oleh Qur-an untuk menunjukkan gas yang banyak dalam materi yang menjadi asal kosmos dan konsep Sains modern tentang nebula primitive (kelompok gas asli).
4.       Kegandaan langit-langit yang diterangkan oleh Qur-an dengan simbul angka 7 yang sudah kita fahami artinya telah dibenarkan oleh Sains modern dalam pernyataan ahli-ahli astrofisika tentang sistem galaksi dan jumlahnya yang amat besar. Di lain fihak wujudnya bumi-bumi yang mirip dengan bumi kita dari beberapa aspek adalah suatu hal yang dapat kita fahami daripada teks Qur-an, tetapi sampai sekarang Sains belum dapat membuktikannya. Bagaimanapun keadaannya, para spesialis menganggap bahwa adanya bumi semacam itu sangat mungkin.
5.       Adanya suatu penciptaan pertengahan antara langit-langit dan bumi seperti yang dijelaskan Qur-an dapat dimengerti dengan diketemukannya jembatan-jembatan materi yang terdapat di luar sistim astronomik teratur.
Jika segala soal yang ditimbulkan oleh ayat-ayat Qur-an sampai sekarang belum dapat diterangkan secara menyeluruh oleh ilmu pengetahuan, sedikitnya tak terdapat pertentangan antara ayat-ayat Qur-an dan pengetahuan modern tentang penciptaan kosmos.
Ketika kita bandingkan penjelasan ayat tersebut dengan berbagai penemuan ilmiah, akan kita pahami bahwa keduanya benar-benar bersesuaian satu sama lain. Yang sungguh menarik lagi, penemuan-penemuan ini belumlah terjadi sebelum abad ke-20 melainkan pada abad 7 Masehi disaat dunia Barat sedang mengalami abad-abad kegelapan (Dark Ages).
1.      Teori Big Bang
Tahapan terjadinya Ledakan Besar (Big Bang) sebagai berikut:

a. Segera setelah terjadi dentumen besar, alam semesta mengembang dengan cepat hingga menjadi kira-kira 2000 kali matahari.
b. Sebelum berusia satu detik, semua partikel hadir dalam keseimbangan, satu detik setelah dentuman, alam semesta membentuk partikel-partikel dasar yaitu elektron, proton, neutron dan neutrino pada suhu 10 milyar kelvin.
c. Kira-kira 500 ribu tahun telah terjadi ledakan, lambat laun alam semesta menjadi dingin hingga mencapai suhu 3000 K. Partikel-partikel dasar membentuk benih kehidupan alam semesta.
d. Gas hidrogen dan helium membentuk kelompok-kelompok gas rapat yang tak teratur, dalam kelompok-kelompok tersebut mulai terbentuk protogalaksi.
e. Antara satu dan dua milyar tahun setelah terjadinya dentuman besar protogalaksi melahirkan bintang-bintang yang lambat laun berkembang menjadi rakasa merah dan supernova yang merupakan bahan baku kelahiran bintang-bintang baru dalam galaksi.
f. Satu diantara miliaran galaksi adalah galaksi bimasakti yang didalamnya adalah tata surya kita dengan matahari sebagai bintang yang terdekat dengan bumi.




BAB III
KESIMPULAN

Alam semesta adalah wilayah di luar planet kita yang disebut ruangangkasa beserta seluruh isinya seperti planet – planet dan bintang - bintang
Proses terjadinya alam semesta di awali dengan peristiwa Ledakan Besar. Materi dan partikel hasil ledakan tersebut saling menjauh kemudian alam semesta yang baru saja terbentuk begitu panas dan berukuran kecil. Pada awalnya semesta tersebut berputar dengan kecepatan tinggi dan menyemburkan percikan – percikan bola api. Mulailah terbentuk bahan – bahan semesta tersebut. Seiring dengan bertambah besarnya balon tersebut, semesta menjadi lebih dingin. Kemudian terbentuklah gas hydrogen. Gas tersebut kemudian pecah menjadi gumpalan – gumpalan gas. Gumpalan tersebut membentuk gugusan galaksi dan bintang.
Beberapa teori tentang asal usul alam semesta : teori materialism, teori alam semesta berosilasi, teori alam semesta kuantum, teori keadaan stabil, teori Big Bang, Teori Penciptaan
Peristiwa Big Bang (Ledakan Besar) adalahledakan sebuah massa yang mempunyai volume nol dikarenakan massa ini memiliki gaya gravitasi yang sangat kuat. Hasil ledakan ini yang membentuk alam semesta.
Hingga saat ini alam semesta terus berkembang. Para Ilmuwan tidak mengetahui sampai kapan alam semesta berkembang dan berapa luas alam semesta itu.







Daftar Pustaka




TERJEMAH AL-QUR'AN "LPPIQ"


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Senin, 12 November 2018, bertepatan dengan jadwal mata kuliah Studi Al-Qur’an yang diampu oleh Bpk. Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag dan Ibu Ati’ Nusyafa’ah, M.Kom.I serta Ibu Baiti Rahmawat, S.Sos selaku asisten dosen, saya dari kelas E4 prodi Ilmu Komunikasi mendapat kesempatan untuk belajar dengan materi “Terjemah Al-Qur’an. Pematerinya langsung dari Tim Penerjemah Al-Qur’an Surabaya. Yakni Lembaga Pendidikan dan Pengkajian Ilmu Al-Qur’an (LPPIQ).
                Al-Qur’an adalah firman Allah yang berbentuk mukjizat  yang diberikan kepada nabi Muhammad SAW, sebagai dasar, sumber nilai yang paling utama,sebagai hidayah untuk membimbing umat manusia demi mencapai kesuksesan dan ketentraman dalam hidupnya. Ia juga sebagai Al-Furqon antara yang haq dan yang bathil dan penyempurna dari kitab-kitab sebelumnya. Al-Qur’an juga berfungsi sebagai As-Syifa’ dari segala penyakit.       
Banyak orang yang pandai membaca Al-Qur’an, banyak yang menghafal Al-Qur’an, tetapi mereka hanya hafal dalam aspek spiritualnya saja yakni apabila menghafal dan membacanya mendapat pahala dari Allah SWT, sedangkan mereka tidak tahu isi, kandungan dan makna dalam ayat-ayat yang selama ini mereka baca dan meraka hafalkan. Padahal, informasi yang terkandung di dalamnya, yang merupakan aspek terpenting yang dibutuhkan dalam menata dan membibing kehidupan akan tetapi dilupakan.
          Menggunakan Al Quran terjemah untuk memahami isi kandungannya adalah salah satu metode mudah yang bisa kita lakukan. Terutama bagi orang-orang yang tidak menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa ibu maupun penutur. Seperti yang kita tahu, ayat-ayat dalam Al-Qur’an memakai bahasa Arab, karena diturunkan kali pertama dan berkembang di Jazirah Arab.
Bahasa Arab sekilas memang tidak mudah, tetapi selama kita punya keyakinan untuk memahaminya, maka rintangan seberat apapun bisa dilewati. Selain itu, tidak ada larangan untuk mempelajari Al-Qur’an melalui versi terjemahannya. Hal tersebut membuktikan bahwa sesungguhnya kita diberi kemudahan untuk mengkaji Al-Qur’an dan kita dapat memperoleh banyak manfaat dari kitab tersebut.

Solusi dari problem di atas, Lembaga Pendidikan dan Pengkajian Ilmu Al Qur’an (LPPIQ) lahir, tepatnya pada tahun 1993. LPPIQ bukan hanya umtuk kalangan pesantren saja tetapi untuk masyarakat juga yang berminat mengkaji Al-Qur’an. Program utama yang direalisasikan sebagai langkah awal untuk mendekatkan masyarakat kepada al Qur’an adalah program “Terjemah Al-Qur’an”. Lembaga ini ada pada tahun 1993, di pelopori oleh Prof. KH. Roem Rowi, M.A dengan tujuan agar masyarakat bisa mempelajari Al Qur’an dengan mudah beserta dengan terjemahannya pula. LPPIQ dapat dijumpai di Rumah Al - Qur'an LPPIQ Karah Tama Asri I No.30, Karah, Jambangan, Kota Surabaya, Jawa Timur 60232. Lokasinya tidak jauh dengan lembaga tilawati.
Dalam mempelajari Al-Qur’an bukanlah orang pintar yang dibutuhkan disini, tetapi orang yang memiliki kemauan, orang yang benar-benar memiliki niat untuk belajar Al-Qur’an. Mengapa? Karena Allah sudah menjamin mudah kepada siapapun yang mau mempelajari Al-Qur’an.
Dalam pembelajaran terjemah Al-Qur’an  kemarin, beliau memberikan kunci bagaimana caranya agar cepat memahami dan hafal terjemahan Al-Qur’an yaitu siapapun yang ingin lancar membaca Al-Qur’an lancarkan dulu surat Al-Baqarah, begitu pula siapapun yang ingin bisa menerjemahkan Al-Qur’an berlatih dulu menerjemah surat Al-Baqarah. Jadi, apabila kita sudah bisa lancar dan bisa menerjemahkan surat Al-Baqarah, maka mempermudah kita dalam menerjemahkan surat-surat Al-Qur’an yang lainnya. Karena di dalam surat Al-Baqarah jus-1 tersebut ada 3.680 kata dan 2.520 kosa kata yang di ulang-ulang. Mengapa banyak kalimat yang diulang-ulang dalam Al-Qur’an? Seperti pada surat Al-Qomar ayat 17, 22, 32 dan 40. Ayat tersebut diulang 4 kali karena Allah ingin meyakinkan apapun itu dibutuhkan peringatan berkali-kali.Karena meyakinkan sesuatu itu perlu waktu tidak bisa instan dan perlu proses.

Dijelaskan pula dalam salah satu artikel di http://www.terapishalatbahagia.net .Artikel ini berjudul “Tiada Gerah Berthausiyah” karangan dari dosen pengampu saya sendiri dan juga merupakan salah satu Guru Besar di UIN Sunan Ampel Surabaya yakni Bpk. Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag , beliau menuliskan ulasan sebagai berikut:

"Jika dalam surat Ar Rahman Allah sebagai Pencipta (al Khaliq) mengingatkan manusia (al makhluq) untuk beriman dan bersyukur kepada-Nya sebanyak 31 kali, dan itupun manusia tidak berubah, maka Anda tidak cukup mengingatkan sesama makhluk hanya tiga kali, sebagaimana ukuran maksimal yang sering Anda gunakan. Sepuluh kali lipat dari 31 kali pun belum cukup bagi Anda untuk menasehati mereka. Jika Anda tiba-tiba bosan menasehati orang karena telah lebih dari 3 kali nasehat, berarti Anda bermaksud menyaingi Allah dalam mengingatkan manusia. Jika Allah mengisi surat Ar Rahman dengan hampir lima puluh persen ayat yang diulang, maka bisa saja kita ambil pelajaran bahwa dibutuhkan separuh usia Anda untuk proses penyadaran keimanan. Jangan sekali-kali bosan memberi taushiyah sekalipun yang mendengar telah gerah. Jangan henti menasehati sekalipun yang menerima berberat hati. Perubahan perilaku seseorang perlu waktu. Tidakkah Allah SWT sendiri mengajari Anda kesabaran menjalani proses dalam segala hal ketika Allah menjelaskan penciptaan alam semesta selama enam hari, bukan dengan sekejap mata, meskipun Allah Maha Kuasa dengan Kun Fayakun. Bersabarlah menuggu proses perubahan orang, apalagi jika Anda menyadari bahwa suara Anda tidak memiliki resonansi dan wibawa di depan mereka karena akhlak Anda sendiri. Sekali lagi, jangan sekali-kali bosan dan gerah bertaushiyah. Allah SWT berfirman, ”Dan tetaplah memberi peringatan, karena sungguh peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman.” (QS. Adz Dzariyat [51]:55)."

Jadi dapat saya simpulkan, bahwa jangan pernah bosan untuk mempelajari Al-Qur’an, karena semakin kamu mempelajarinya bukan semakin habis ilmunya tapi akan semakin kagum akan hal-hal yang belum kamu ketahui dalam Al-Qur’an tersebut. Banyak hal-hal yang indah yang Allah tuliskan dalam Al-Qur’an tersebut apabila kamu paham terjemahannya dan mkasudnya. Dan jangn pernah bosan mengingatkan seseorang dalam kebaikan, karena Allah telah menjajikan pahala yang sangat besar bagi orang yang mau saling mengingatkan dalam hal kebaikan.